REVIEW BUKU DR. TAN SHOT YEN (2)

Buku ini saya dapatkan menjelang akhir puasa. Benar-benar buku yang bagus sebagai “sangu” mudik, mendekati akhir puasa di mana kita akan kembali pada fitrah, sebagai manusia seutuhnya; independen dan sudah seharusnya menghargai diri kita sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang sempurna.

cover dr tan-2

Buku “DARI MEKANISASI SAMPAI MEDIKALISASI – Tinjauan Kritis Atas Pereduksian Tubuh Manusia dalam Praktek Medis” ini merupakan isi Thesis Magister Dr. Tan Shot Yen di Sekolah Tinggi Filsafat Drijarkara. Tak heran, karena merupakan sebuah tulisan ilmiah, maka banyak sekali ulasan-ulasan di buku ini yang membuat awam kesulitan untuk mengerti, dibandingkan dengan buku sebelumnya, “SAYA MAU SEHAT dan SEMBUH”. Apalagi saya pun menemukan buku ini digolongkan pada katalog rak buku bidang Kedokteran, bukan Kesehatan/Umum.

Namun karena saya punya banyak waktu menjelang hari Raya Idul Fitri, maka saya pun “berhasil” walau dengan “terbata-bata” menyelesaikan bacaan saya setebal 134 halaman ini. Beruntung sekali Dr. Tan adalah orang yang sangat hobi mencantumkan berbagai sumber yang “mewarnai” tulisannya, pada index di bawah masing-masing halaman, sehingga saya bisa dengan segera mendapatkan penjelasan yang lebih gamblang tanpa harus bolak-balik membuka halaman Daftar Pustaka.

Buku ini tampaknya merupakan proses kreatif Dr. Tan selama menggeluti profesi sebagai seorang dokter. “Penyeberangan” nya ke bidang Filsafat rupanya mengembalikan pola pikir terstruktur seorang dokter menjadi penerimaan atas keberadaan manusia seutuhnya; keberbedaan tiap individu, tak dapat sedemikian saja disama-ratakan melalui angka-angka statistik, acuan normal, dan standar prosedur seperti bila kita menghadapi seonggok mesin. (Baca halaman Pendahuluan)

Menganggap manusia sebagai mesin maupun menganggap manusia sebagai obyek dari medikasi, sebenarnya merupakan sikap yang merendahkan harkat dan martabat manusia sendiri sebagai makhluk Tuhan. Tuhan menciptakan manusia sedemikian sempurna, dengan kehendak bebas, dan kemampuan untuk meyembuhkan dirinya sendiri, namun akibat dari proses mekanisasi dan medikalisasi yang merupakan kepanjangan dari pesatnya kemajuan teknologi dan sains, membuat manusia menjadi semakin bergantung pada pihak-pihak lain.

Manusia menjadi miskin pengalaman hidup, memilih yang serba instant dan sebenarnya tak perlu, walau untuk itu diperlukan pengorbanan materi yang jauh dari sedikit jumlahnya. Manusia menyandarkan hidupnya pada kecanggihan teknologi, berlomba-lomba mencari “angka normal”, dan mencoba “menyeragamkan diri” sehingga kehilangan keunikan pribadi. Otomatis, kejadian seperti ini akan menguntungkan banyak pihak yang terlibat di dalamnya. Sebut saja industri farmasi, kesehatan, layanan pribadi, dan sebagainya, yang akan mengeruk keuntungan sebesar-besarnya tanpa lagi peduli terhadap filsafat manusia.

Maka saya rasa, sebetulnya sekarang-lah merupakan momen yang tepat. Setelah menjalankan ibadah puasa sebulan lamanya. Men ” detox” diri dari segala kotoran dunia, kembali pada fitrahnya – saatnya kita memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada diri kita sebagai manusia. Jangan lagi merendahkan kemampuan kita dalam menjalani hidup. Jangan lagi merendahkan martabat dengan menimpakan kegelisahan dan kesakitan pada pihak lain. Mari berjuang untuk meraih kesempurnaan, dengan menghargai tubuh kita, kesehatan yang harus kita jaga sendiri, keseimbangan tubuh, pikiran dan jiwa sebagai manusia holistik, yang tidak hanya sanggup berteriak kesakitan dan minta pertolongan saat cobaan menghadang.

The doctor of the future will give no medicine.

But will interest his patient in the care of the human frame.

In diet and in the cause and prevention of disease.

(Thomas Alfa Edison, 1847-1931)

Tambahan : Berikut alamat Klinik Dr. Tan Shot Yen

Dr.Tan Wellbeing Clinic
Gedung Perkantoran CBD, BSD City, blok G/22
Serpong 15310,Banten, INDONESIA

About these ads

12 responses to this post.

  1. Posted by Dr Tan on October 23, 2009 at 5:05 pm

    Terimakasih telah meluangkan waktu untuk membaca kedua buku saya bahkan memberi review yang begitu berharga.

    Namun demikian, ayah saya mempunyai tempat praktek sendiri,Jl. Pluit Putri Dalam 8, Jakarta Utara (jam praktek beliau 06.00 pagi-9.00 dan 15.00-17.00)tanpa perjanjian sedangkan saya di :

    Gedung Perkantoran CBD, BSD City, blok G/22. depan ocean park, sebelum Teras kota (hotel Santika BSD/blitz megaplex). Senin sd Jumat tanpa perjanjian, pasien baru jam 11 sudah ada di tempat.

    Terimakasih.

  2. Posted by rumahherbalku on October 23, 2009 at 8:57 pm

    It’s a great honour, Dr. Tan…

    Terimakasih mau mampir di blog saya ini.
    Saya memang belum mengetrapkan secara penuh apa yang tertulis di buku tersebut, namun perlahan saya berusaha dan akan terus menularkan pengetahuan ini seperti virus.
    Saya senang tulisan Dr. Tan bisa dimengerti oleh hampir semua lapisan pembaca, sehingga kesehatan tak lagi hanya dimiliki oleh kaum berada dan kaum intelektual saja.

    Semoga Dr. Tan bisa terus berkarya. Salam saya untuk ayah anda tercinta!

  3. Posted by herman on October 30, 2009 at 9:20 am

    Hi dr Tan, saya memiliki adik yang terkena meningitis TB dan sekarang sudah dalam fase pemulihan di mana dia sudah mulai menggerakkan anggota tubuhnya hanya saja kelihatan bahwa semangatnya sudah sangat turun. Dia masih makan melalui selang (NGT) dgn alasan yg menurut kami (sdh dicek ke beberapa dokter) adalah alasan psikis dan bukan fisik. apakah dokter memiliki cara yang tepat dan bisa dicoba thdp adik saya ini? terima kasih. salam : Herman

  4. Dear Rumah Herbal…

    Saya punya dan baca buku Dr Tan yg pertama. Membaca ulasan anda yang ini, sungguh makin menggugah minat saya untuk memberdayakan diri sendiri utk menggapai kesehatan sejati.

    Saya mohon ijin kiranya diperkenankan untuk menyampaikan resensi anda di facebook dan blog saya agar dibaca oleh makin banyak orang.
    Tentu saja sumber aslinya akan saya cantumkan.

    Maturnuwun…
    Salam kenal…

  5. Posted by rumahherbalku on November 21, 2009 at 10:25 pm

    Silahkan saja jika ingin memuat tulisan saya. Buat saya, yang namanya pengetahuan harus disebarluaskan. Apalagi yang murah-meriah tanpa harus pasang iklan di Televisi.

    Semakin kita berbagi ilmu, semakin banyak ruang kosong untuk diisi kembali, bukan? Terimakasih banyak atas pujiannya. Semoga bisa memotivasi diri saya sendiri untuk lebih banyak membaca, dan yang paling penting : MEMPRAKTEKKAN-nya dalam kehidupan saya sendiri!

  6. Posted by Julia on January 12, 2010 at 4:19 pm

    Dear Rumah Herbalku,

    Membaca buku bermanfaat seperti buku Dr Tan, membuka mata dan hati saya lebar lebar.
    bahwa tubuh kita lebih berharga dari kenikmatan dan lezatnya makanan yang tidak penting.
    Terima kasih untuk rumah herbalku
    terima kasih juga untuk Dr Tan.
    kami lebih membutuhkan dokter yang care seperti Dr Tan yang mengajarkan saya lewat tulisannya untuk menghargai tubuh saya, daripada dokter yang terlihat pandai tapi hanya mementingkan sisi komersial.

  7. Posted by rumahherbalku on January 20, 2010 at 8:36 am

    Dokter sekarang ini harusnya lebih me-manusia-kan manusia.

    Menggali sisi kelebihan manusia yang telah menjadikannya makhluk yang sempurna, berakal dan mampu berusaha, sehingga lebih mampu menghargai diri sendiri dan apa yang telah diberikan oleh Penciptanya.

    Segera sadari hal ini di dalam setiap aspek kecil kehidupan, dan saya yakin, kualitas hidup akan berubah, menuju sesuatu yang jauh lebih baik!

    Salam…

  8. yth Dr Tan, saya menderita hyperthyroid, (sdh 5th) apakah saya boleh makan rowfood? thanks

  9. Posted by rumahherbalku on January 29, 2010 at 9:23 am

    Pertanyaan anda akan kami teruskan kepada dr Tan melalui tablid Nyata, terimakasih.

  10. Posted by diany on June 13, 2010 at 5:24 pm

    dr. tan saya mengetahui anda dari majalah nirmala, saya ingin sekali menerapkan pola makan seperti yg anda sarankan karena saya mengidap hipertensi
    tolong donk dok beritahu saya makanan apa yg boleh saya makan dan yg tidak untuk saya, bagaimana mengatur pola makannnya ? terimaksih ya dok

  11. Posted by retty rani on September 20, 2010 at 4:20 pm

    Salam hangat bu dr saya telah membaca buku ibu karena anaku yg menderita hypertensi dpt normal tensinya dg food combining saya ingin mengikuti caranya meski umur saya. Th saya agak bingung dibuku ibu soal meracik mkn seimbang itu contohnya spt apa beda dg cara food combining terima kasih atas perhatian ibu Salam

  12. Posted by rumahherbalku on September 29, 2010 at 2:42 pm

    Maaf, bunda… saya bukan Dr. Tan Shot Yen
    Terimakasih, anyway…
    Semoga food combining bukan hanya untuk menyembuhkan penyakit saja, namun bisa menjadi “kebudayaan” yang dilestarikan sampai generasi mendatang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: