MAKANAN ALAMI, APA DAN BAGAIMANA

Sering kita mendengar dibeberapa acara TV, media, bahkan iklan, kata-kata “mengandung bahan-bahan alami” yang ditujukan pada sebagian besar jenis makanan maupun minuman yang dapat dikonsumsi. Namun apakan makanan alami itu sebenarnya dan apakan makanan dan minuman yang “mengandung bahan-bahan alami” itu dapat disamakan dengan makanan alami? Mari kita telaah lebih lanjut.

Makanan alami adalah makanan yang didapat dari alam dan diproses secara alami pula sebelum dikonsumsi. Contohnya adalah semangkuk sayur bayam tanpa MSG dari dapur anda dan seiris mangga dari kebun belakang. Atau bisa juga pepes ikan laut yang dibungkus daun pisang. Sedangkan produk-produk hewan ternak rata-rata diproses menggunakan campur tangan bahan kimia, sejak awal dari tempatnya berkembang biak. Walaupun produk-produk pertanian juga menggunakan campur tangan kimia sejak pembibitan, tapi percayalah kadarnya dapat berkurang jika sitem pemrosesannya tepat dan masih jauuuh lebih aman bila dikonsumsi oleh tubuh dibandingkan dengan hasil olahan produk hewani!

Proses yang dikenakan pada produk hewani baik pada saat di peternakan maupun proses pada saat hendak dikonsumsi lebih dipengaruhi oleh berbagai macam bahan kimia. Campuran pada makanan ternak yang dimaksudkan untuk menambah berat badan dan kandungan susu telah menyalahi hukum alam. Hewan-2 yang seharusnya herbivora, diberi campuran makanan bernutrisi yang mengandung protein hewani. Ada kesalahan di sini! Ditambah lagi apabila setelah panen, produk hewani tersebut diolah sebagai makanan junk food. Kemana larinya segala manfaat bahan alami yang terkandung di dalamnya?

Belum lagi dengan penambahan kata-2 “mengandung bahan-bahan alami” yang menjadi rancu. Tubuh manusia hanya mampu memproses bahan yang benar-benar alami untuk menjaga terjadinya homeostasis. Namun bahan-2 alami yang diproses secara “tidak alami” tentu saja akan mendapatkan reaksi berbeda dalam tubuh dibandingkan dengan bahan makanan yang benar-2 alami. Contohnya, kandungan omega3 dan DHA serta EPA yang banyak ditemukan dalam ikan laut, tentunya memberikan reaksi yang berbeda jika dibandingkan dengan memberikan DHA dan EPA maupun omega3 melalui susu! Beberapa ibu mengeluhkan anaknya menderita konstipasi ringan, bahkan ada yang menjadi hiperaktif sehingga terpaksa mengganti produk susunya menjadi susu kedelai biasa. Jadi bagaimana, dong?

Kembali ke alam berarti pula berusaha mengkonsumsi makanan yang alami. Mengurangi sebesar mungkin bahan-2 tambahan dalam makanan, memproses sesederhana mungkin asupan, dan memilih makanan yang segar dan baru dimasak. Untuk mengkonsumsi makanan alami memang diperlukan sedikit pengorbanan, baik waktu dan biaya, jika dibandingkan dengan mengkonsumsi makanan asal kenyang. Namun investasi ini tak seberapa jika dibandingkan dengan hasil yang akan kita dapatkan sekitar… sepuluh tahun lagi, misalnya! Berani mencoba??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: