OBAT TRADISIONAL, KERANCUAN DEFINISI & EKSPEKTASI KONSUMEN

Beberapa minggu yang lalu, saya sempat memberikan komentar mengenai obat tradisional di sebuah blog. Tema penulisan posting di blog tersebut adalah sebuah tips agar konsumen berhati-hati dalam mengkonsumsi obat. Baik itu obat farmakologi (kimia) maupun obat tradisional (yang lebih dikenal dengan “jamu”)

Di sini saya melihat sebuah kerancuan definisi mengenai obat tradisional yang pernah saya tulis juga di posting saya. Sayangnya, belum ada itikad baik dari pihak-2 terkait; misalnya pelaku bisnis farmakologi, fitofarmaka, maupun dari dinas kesehatan untuk memberikan penjelasan sejelas-jelasnya mengenai penggunaan kata-kata “OBAT TRADISIONAL” kepada khalayak umum.

Hal ini menyebabkan kepercayaan masyarakat ternodai oleh beberapa produsen yang telah sengaja “mengolah” obat tradisionalnya dengan mencampurkan bahan kimia ke dalamnya. Padahal, dari jaman nenek moyang, cikal bakal obat tradisional hanya berbahan dasar alam – baik itu menggunakan tumbuhan maupun hewan. Proses yang digunakan dalam pengolahannya pun tergolong alami. Bisa dijemur / direbus / dimasak dan sebagainya.

Saya mulai berpikir bahwa kerancuan definisi ini juga disebabkan oleh beberapa produsen obat tradisional yang mencantumkan “khasiat & kegunaan” pada label produknya. Tulisan pada label ini seringkali menyebabkan konsumen mempunyai tingkat ekspektasi yang berlebihan, terutama untuk penyakit kanker, jantung, diabetes, dan jenis-2 penyakit lain yang tingkat kesembuhannya pun masih dipertanyakan secara medis.

Beberapa contoh pencantuman yang saya maksud bisa dilihat di sini.

contoh label obat tradisional

Pada obat farmakologi,  pencantuman khasiat& kegunaan pada kemasannya dituliskan sebagai “indikasi” dan “kontraindikasi“. Jarang sekali indikasi menyebutkan suatu jenis penyakit tertentu yang spesifik seperti yang tercantum pada label obat tradisional. Apalagi biasanya obat tradisional mencantumkan beberapa jenis penyakit yang “tampaknya” tidak saling berhubungan satu sama lain sehingga membingungkan konsumen.

Untuk itu diperlukan pengetahuan yang amat menyeluruh bagi pengobat tradisional apabila mereka menggunakan obat-2 tradisional yang telah diproses dan dikemas secara modern, agar tidak memberikan ekspektasi berlebihan kepada konsumen, dalam hal ini sebagai pasien. Bagaimanapun juga, tindakan medis harus dilakukan apabila kondisi pasien dalam keadaan gawat, karena “medical action” adalah satu-2nya cara untuk memberikan kesempatan dan waktu bagi proses penyembuhan berikutnya! Setelah tindakan medis yang disyaratkan, barulah obat tradisional dapat segera beraksi untuk memenuhi tujuan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif.

2 responses to this post.

  1. Posted by maximumalchemist on January 24, 2009 at 10:40 pm

    @rumahherbalku: waduh.. jadi ini pembenarannya ya..

    trimakasih atas kesediaannya buat mengkoreksi..=))

  2. […] obat tradisional, peraturan Setelah browsing di internet mengenai topik posting saya tentang OBAT TRADISIONAL, KERANCUAN DEFINISI DAN EKSPEKTASI KONSUMEN, saya menemukan satu sumber yang informatif dan hendaknya dijadikan wacana bagi para produsen obat […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: