KEBEBASAN PRITA-KEBEBASAN MENULIS YANG TAK KEBLABASAN

KEBEBASAN PRITA – KEBEBASAN MENULIS YANG TAK KEBLABASAN

Kalau dibilang peristiwa yang dialami Prita Mulyasari membuat saya menghentikan sejenak kegiatan menulis saya di Blog ini – ada benarnya. Bukan karena khawatir atau trauma – namun lebih karena waktu menulis saya tersita untuk mengikuti kasus tersebut. Media mengulas setiap perkembangan kasusnya dengan mendatangkan ahli-ahli bahasa, ahli hukum, ahli TI, dan orang-2 yang pernah mengalami kasus sama dalam bentuk berbeda, Bahkan ketika akhirnya media mampu “membalikkan” perhatian kepada jaksa penuntut, yang ditengarai mempunyai kepentingan khusus dengan pihak RS. Omni, sampai akhirnya ketahuan pula “masalah” perijinan RS Omni yang sebetulnya bukan RS. Internasional… saya makin geleng-geleng kepala.

p01-b_2

Banyak sudah komentar masuk; dukungan di Facebook, dari Dewan Pers, Komnas HAM, segala penjuru Prita dapatkan. Masalah ini menggelembung besar dan menjadi radikal manakala disangkut pautkan dengan undang-undang dan kebebasan mengekspresikan diri. Kebetulan pula masalah ini menggelegak saat publik sedang dilenakan oleh janji-janji para calon pemimpin yang sibuk bersliweran di media massa.

Apa yang disebut sebagai “Pencemaran nama baik” hendaknya disikapi dengan perilaku sebaliknya – “Pembaikan nama cemar”. Itu saja sudah cukup. Mengapa harus menempuh tindakan yang radikal? Apakah penyampaian pendapat – apapun caranya – yang juga mungkin bermaksud sebagai kritik membangun – harus senantiasa mendapat kawalan produk hukum? Yang saya lihat dalam kasus ini, sebenarnya Prita mampu meluncurkan permasalahannya itu ke meja hukum, jauh hari saat dia menerima perlakuan tersebut. Namun sekarang, kesempatan itu disikat habis oleh pihak lawan lebih dulu mengingat mereka lebih “sadar hukum” daripada si korban, dan akhirnya posisi menjadi berbalik. Korban yang seharusnya mengadukan keluh kesahnya, duduk di kursi tersangka karena belum sadar hukum. Siapa cepat, dia menang!

Saya hanya ingin mengutarakan pendapat pribadi, dari sudut pandang seorang pembelajar holistik. Jika saja setiap kegiatan MENULIS harus diikuti dengan kesadaran hukum, maka tak ada lagi karya sastra. Tak ada lagi kritikan, tak ada lagi produk hiburan. Semua mengacu pada sebuah legalitas yang sewaktu-waktu bisa saja berbalik menjadi bumerang bagi sang penulis. Bukan berarti kemudian bisa MENULIS apa saja sampai keblabasan. Namun dengan rambu-rambu norma rasanya sudah lebih dari cukup. Karena apapun tulisan bentuknya adalah merupakan karya seni, tindakan yang merespon sebuah tulisan hendaklah juga mengandung seni dari hasil pikiran yang lebih jernih. Sebuah respon dari tulisan seseorang mampu menunjukkan mentalitas serta harga diri respondernya, seperti balasan komplain yang sering kita baca disurat-surat pembaca. Lebih dalam lagi, adalah representasi dari seorang pemberi servis kepada pelanggannya!

Nah! ada baiknya kasus Prita yang – Alhamdulillah – sekarang ini sudah dibebaskan, menjadi pelajaran bagi anda yang berprofesi sebagai Customer Service sebagai ujung tombak perusahaan dalam mengelola klaim maupun komplain yang datang. Agar menjadi lebih matang dalam merespon segala permasalahan yang timbul, tanpa menggelembungkan masalah dan akhirnya berbalik arah malah meletus menjadi permasalahan yang benar-2 baru…

One response to this post.

  1. HASIL DENGAR PENDAPAT KOMISI IX DPR DGN MANAGEMENT RS OMNI:
    1. KOMISI SEMBILAN TIDAK PUAS DENGAN JAWABAN DARI PIHAK RS OMNI
    2. MENGUSULKAN PENCABUTAN IZIN OPERASIONAL RS OMNI
    3. MENCABUT TUNTUTAN RS OMNI KEPADA PRITA MULYASARI
    4. RS OMNI HARUS MINTA MAAF SECARA TERBUKA KEPADA PRITA MULYASARI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: