BEING A GOOD DOCTOR

Kasus yang mendera RS. Omni internasional (yang ternyata belom or bukan internasional?) semakin berlarut-larut! Kalau saja mereka tidak mempermasalahkan e-mail Prita Mulyasari, mungkin masalahnya tidak akan menggelembung seperti bisul yang mau pecah di sana-sini…

Kalau dipikir-pikir secara jernih, akal sehat, pelan-pelan, tarik napas, dan cuekin media yang “full throttle” mengkobar-kobarkan opini, sebenernya permasalahan intinya ada pada “lack of communication” atau kurangnya informasi dari pasien ke dokter dan dari dokter ke pasien… Dokter bekerja sendiri dan bersikap “maha tahu” sedangkan pasien dianggap “mau tahu” bahkan kalau bertanya agak serius bisa dianggap “sok tahu” (lhoooo???? piye tho??).

Hermawan Kartajaya – sang GURU Marketing yang sudah mendunia, pernah menulis buku “BEING A GOOD DOCTOR”. Memang kenapa kok seorang ahli marketer merasa ber-HAK menulis tentang “dokter yang baik?”, karena pada dasarnya, seorang dokter memberikan pelayanan JASA. (Bagi yang merasa dokter, jangan tersinggung lalu mempermasalahkan tulisan ini sebagai “pembaikan nama cemar” yah! – soalnya belum ada pasalnya!)

Dokter yang baik – mengutip buku tersebut – mempunyai 7 ciri pelayanan kedokteran yang prinsipnya adalah:

  1. Kendali Mutu
  2. Kendali Biaya
  3. Equity – atau Berkeadilan, tak ada diskriminasi
  4. Equality – bisa diterjemahkan sebagai perlakuan yang merata
  5. Affordable – yaitu terjangkau
  6. Structured – berarti terstruktur
  7. Safe – tahu semua, dah… : a m a n

Jadi, dokter mestinya melayani pasien dengan sepenuh hati. Wajar lah, jika tidak tepat pelayanannya – walaupun sang dokter sudah punya jam terbang tinggi dan berkompetensi super, bisa saja reputasinya atau bahkan rumah sakitnya akan tercemar! Itu mungkin yang kini tengah dilalui oleh RS. Omni Internasional. Semestinya, dokter harus bekerja dengan baik karena juga merupakan “ujung tombak” pemasaran dari Rumah Sakit…

Satu lagi yang tidak boleh dilupakan… Pasien – terutama untuk Rumah Sakit yang “berkelas” tentunya merupakan “targeted segment” – ya orang-orang yang “berkelas” juga. Segmen yang satu ini mestinya pernah makan “kelas” (bersekolah) lebih banyak (baca: lebih tinggi – higher educated) daripada pasien yang datang ke poliklinik biasa atau malah ke puskesmas. Jadi jangan heran kalau sewaktu-waktu konsultasi diwarnai dengan perdebatan seru yang berlatar belakang hukum atau pengetahuan medis, padahal pasien anda bukan seorang pengacara atau sesama tenaga medis. Sayapun seringkali ditanya jika kebetulan harus “berurusan” dengan dokter : “Ibu ini dari mana? tenaga medis? detailer? apoteker” dan memandang saya dengan penuh curiga, padahal saya cuma seorang Herbalis Pembelajar (nggak ada gelarnya, tuh! Kalau ngotot pingin tahu adanya cuman ST. Sarjana Teknik – itupun Teknik Sipil… sama sekali nggak bau medis)

Sedangkan dari sisi pasien, wah… memang masih perlu PEMBELAJARAN. Dari sekian banyak masyarakat Indonesia yang “berpotensi” menjadi pasien, yang sudah menjadi pasien pintar – mengetahui hak dan kewajibannya – barangkali cuma 10-25% saja. Karena itu mungkin dokter juga “malas” berkomunikasi dengan sisanya. Karena itu – wahai pasien… jangan asal ke dokter… Pilihlah dokter yang baik – bukan hanya namanya, papan namanya, wajahnya, rumah sakitnya, antriannya, yang baik. Tapi pertimbangkan seorang dokter yang mampu membuat anda merasa puas dalam sesi konsultasi, mampu memberikan kepercayaan diri bahwa anda bisa disembuhkan, dan menyemangati anda untuk hidup lebih baik. Yah… barangkali dokter yang se ideal ini juga baru 10-25% saja di Indonesia…. Walahualam!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: