MEDIKALISASI – MEDICALIZATION OF SOCIETY

Semua bermula dari keseriusan saya melihat iklan di televisi, (biasanya saya selalu melewatkan bagian ini) sembari menemani keponakan kecil saya yang baru berusia satu tahunan dan sangat hobi nonton iklan.

Nyaris keseluruhan dari satu segmen iklan ternyata benar-benar “memanfaatkan” proses medikalisasi manusia, seperti yang dijabarkan oleh Dr. Tan Shot Yen pada bukunya DARI MEKANISASI SAMPAI MEDIKALISASI
Tinjauan Kritis Atas Pereduksian Tubuh Manusia dalam Praktek Medis yang pernah saya review sebelumnya di blog ini.

Sebut saja iklan susu tinggi kalsium yang ditujukan bagi lansia untuk mencegah ostoporosis. Kita semua tahu, seiring dengan bertambahnya usia, apalagi setelah melewati menopause, massa dan densitas tulang akan menurun dengan sedirinya (setelah melewati Peak Bone Mass awal usia 40-an). Maka jelas, penambahan kalsium susu setelah usia tersebut tidak akan optimal lagi. Malahan unsur-2 kandungan lain dalam susu ataupun bisa jadi memicu penyakit yang baru. Coba baca artikel dari situs Dr. Mercola berikut ini (tanpa bermaksud menakut-nakuti, lho… hanya sebagai bahan pertimbangan)

Lantas iklan produk kosmetik yang “menjanjikan” wajah tampak putih, menyamarkan noda, menyamarkan kerut… Hmmm… setahu saya wajah yang tampak putih akan terlihat aneh jika seluruh tubuh anda tidak ikutan putih? (Lain dengan almarhum Michael Jackson yang memutihkan diri secara all out dengan biaya yang bisa jadi membuat anda harus kerja all out pula) Jadi kalau begitu harus beli body lotion pemutih juga donk biar keliatan “seragam”??? Belum lagi masalah kerut di wajah… sehari hilang besok berkerut lagi karena keseringan marah-marah pada anak-anak yang bawelnya minta ampun. Atau karena si Bos memberi tugas yang menumpuk dan rasanya nggak akan ada habisnya!

Ada lagi tentang pelancar BAB. Yang satu ini kelihatannya sangat praktis, ya? Melancarkan BAB bisa menggunakan obat berbentuk pil, sampai minuman rasa jeruk! Lantas sampai kapan penggunaannya bisa ditolerir oleh tubuh kita? Mengapa kita tidak berusaha “mencari tahu” kenapa ada yang terkena diare, sedangkan kita BAB tidak lancar? Apa yang terjadi pada tubuh kita? Apa penyebabnya? (Waaa… kelamaan tuh!!! Enakan juga “tinggal lep…” atau “glek aja langsung…”
seperti jargon-2 iklan lainnya!) Malahan di salah satu surat kabar ada cartoon corner yang lucu menggambarkan iatrogenesis atau komplikasi klinis ketika dua ekor ikan di akuarium merasa agak baikan saat air akuariumnya dituangi larutan prebiotik. Haya saja salah satu ikan tersebut sekarang malah mengalami diare sebagai efek sampingnya!

Itu semua, merupakan contoh-2 sehari-hari medikalisasi manusia alias Medicalization of Society. Kondisi di mana hampir semua permasalahan dalam kehidupan sehari-hari dapat diatasi secara medis. Apakah permasalahan itu bersifat privacy, psikis, ataupun hanya karena kebiasaan semata – praktis sekarang bisa disembuhkan dengan pengobatan medis. Sampai-sampai ada sebuah serial televisi di Amerika yang bertajuk Selling Sickness yang menyindir perilaku medikalisasi – “There’s an ill for every pill”

Jadi, siapkah anda akan berondongan sistem medikalisasi manusia ini? Ataukah anda ingin jadi manusia seutuhnya yang mampu bertanggung jawab atas hidup anda sendiri?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: