BICARA SOAL DAMPAK SISTEMIK YANG LAIN

Kejadian ini berawal ketika saya mendadak bersin-2 di tengah kegiatan menjahit. Bersin-2 yang berkesinambungan sampai membuat mata saya berair, dan hidungpun ikut-ikutan tersumbat. Garis besarnya, tubuh saya sedang mengadakan aksi produksi lendir yang berlebihan, yang saya kenali sebagai reaksi alergi.

Dua jam sebelumnya, saya mencicipi makanan oleh-oleh dari Sulawesi. Makanan yang enak tersebut tanpa dinyana telah memicu sistem imunitas saya sehingga dampak sistemiknya menyebabkan reaksi alergi.

Sambil “menikmati” reaksi alergi tersebut, saya berpikir, apa yang seandainya terjadi jika tidak ada reaksi alergi saat kita “kemasukan” suatu alergen. Jawabnya mungkin cuma satu : MATI. Kehilangan kapasitas hidup.

Seperti yang telah saya pelajari sebelumnya, dalam ilmu genetika, keseluruhan fungsi dan sistem kehidupan ditopang oleh sejumlah besar protein-2 yang disusun oleh DNA. Dan DNA sendiri secara sederhana terdiri dari 4 huruf yang tersusun secara sistematis. A, T, C, dan G. Mudah-mudahan sampai di sini pembaca dapat mengikuti “lamunan” saya.

Jika suatu zat yang “dianggap” racun oleh tubuh masuk ke dalam sistem ini, maka kombinasi A, T, C,G tadi akan terganggu. Terjadi chaos dalam kreasi protein sehingga zat racun tersebut – yang sekarang diberi nama alergen segera diproses untuk diblokir agar tidak mengacaukan keseluruhan sistem. Terjadilah dampak sistemik dari kekacauan ini,yang akibatnya – dilihat dari tingkat fatalitasnya bisa menyebabkan collapse maupun koma. Diikuti dengan reaksi-2 lain dengan derajat fatalitas yang makin menurun seperti sesak napas, bersin-2, gatal-2 sampai pada pembengkakan pada area tertentu.

Ini semua adalah hasil kerja sistem imunitas yang berusaha melindungi kelangsungan hidup kita. Bayangkan jika sistem imunitas dan dampak sistemik itu tak ada, makan kacang saja, beresiko kematian, lho!

Karena itu sekarang banyak sekali ahli terapi alergi. Mulai dari hypnoterapi, akupunktur, maupun medis. Mengapa? Karena kemampuan tubuh mengenali suatu zat adalah racun, dapat diprogram dan dilatih. Itulah sebabnya mengapa satu sama lain memiliki jenis alergi yang berbeda, terhadap alergen yang berbeda pula. Itu juga sebabnya mengapa anak-2 sekarang lebih mudah alergi terhadap bahan-2 makanan alami ketimbang terhadap bahan-2 makanan dengan campuran kimia, seperti yang “biasa” mereka konsumsi sehari-hari.

Percaya atau tidak, manusia lah yang menjadi penentu atas kualitas kehidupannya sendiri.

4 responses to this post.

  1. Posted by Daiichi on March 1, 2010 at 5:27 pm

    Saya pernah kena alergi, alergi antibiotik biasaanya ga pernah. ko aneh ya??

  2. Posted by rumahherbalku on March 18, 2010 at 3:16 pm

    Jalan pikiran saya mengenai alergi sebetulnya sangat sederhana. Dimulai dari otak, kemudian pada pembentukan DNA yang memerlukan protein. Karena alergi pada dasarnya adalah usaha tubuh untuk memproteksi diri dari serangan benda tak dikenal, maka otomatis pada saat mengalami alergi antibiotik, tubuh anda menganggap antibiotik tersebut sebagai musuh.. Timbullah proses yang mengganggu dan kadang-2 bisa berakibat kematian, seperti kasus SINDROM STEVENS JOHNSON. (baca di sini: https://rumahherbalku.wordpress.com/2009/04/16/untuk-nita-halimah/)

    Penelitian terakhir menyatakan bahwa ada campur tangan DNA yang menentukan apakah suatu alergen dianggap berbahaya bagi tubuh, seberapa berbahaya dan bagaimana mengantisipasinya. Begitu pula penelitian yang menyatakan bahwa DNA pun bisa diubah, dengan cara-cara tertentu, maka walhasil, yang dulunya alergi, bisa saja sekarang kebal, atau sebaliknya, yang dulunya tidak alergi, tiba-tiba jadi alergi… ^_^

  3. Posted by lista on September 8, 2010 at 11:27 pm

    Dee,anakq yg kecil (2 th) kalo habis makan coklat pasti terus gatel2 badannya..kemungkinan alergi..padahal dia paling suka tuh yg namanya coklat, mulai susu ,roti, maunya rasa coklat, permen coklat batangan, sampai suka ngemil meises segala..apa bener klo ada yg bilang..supaya kebal , maka terus aja dikasih faktor pencetusnya tsb.. benar begitu?? tenkyu

  4. Posted by rumahherbalku on September 29, 2010 at 2:46 pm

    Alergi sampai sekarang masih jadi rahasia Tuhan, he..he..
    Secara genetik saya pernah baca di buku GENOM, memang ada yg bisa disembuhkan dengan “memaksa” tubuh menghadapi faktor allergennya.

    Tapi ada juga yang keadaannya malah makin parah. Bisa juga karena faktor usia ya… Tambah tua kan adaptasi makin sulit, sistem imunitas menurun, sehingga kemungkinan sesuatu yg dulunya tidak menyebabkan alergi tiba-tiba sekarang bikin masalah.

    Ada juga literatur yang menyebutkan bahwa sistem adaptasi itu terbentuk sejalan dengan sistem imunisasi, makanya ada iklan yang berani bilang : BERANI KOTOR ITU BAIK, karena semakin banyak “input” pada saat masih anak-anak, semakin bagus daya “memori” kekebalan tubuhnya. Semakin banyak yg dilarang/tidak ada variasi, semakin peka tubuhnya di masa dewasa.

    Moga-moga berguna.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: